Total Pageviews

Sunday, February 18, 2007

POSISI PRISTIWA SITUJUH DALAM SEJARAH INDONESIA

Oleh Wannofri Samry**



Pendahuluan
Pada makalah ini saya ingin mengemukakan posisi Peristiwa Situjuh Batur 15 Januari 1949 dalam perkembangan sejarah Indonesia. Ini perlu dikemukakan karena selama ini Peristiwa Situjuh sering dipahami sebagai bahagian dari Sejarah lokal Sumatera Barat. Hal itu setidaknya terlihat dari semangat Peristiwa Situjuh yang dilakukan setiap tahunnya. Tetapi saya pribadi tidak terlalu berpretensi untuk mengusulkan bahwa peristiwa itu menjadi bahagian dari sejarah nasional secara legal formal, karena hal yang sangat penting adalah memberikan kesadaran akan sejarah pada setiap orang, baik masyarakat maupun pemerintah. Satu hal yang sangat penting menurut saya adalah melakukan pengkajian ulang mengenai Peristiwa Situjuh Batur dan Limapuluh Kota umumnya . Kalau memang kita ingin peristiwa-peristiwa sejarah di sekitar daerah ini diperhatikan. Karena dengan menulis, orang akan membaca. Tulisan dan penerbitanlah satu-satunya jalan untuk mengangkat peristiwa Situjuh ke ruang publik.

Meletusnya PDRI
Peristiwa Situjuh Batur berkaitan dengan agresi Belanda ke-2, peristiwa itu ditandai dengan dibomnya Yogyakarta dan Bukittinggi oleh Belanda pada tanggal 19 Desember 1948. Rentetan peristiwa itu adalah ditangkapnya Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M. Hatta beserta pemimpin lainnya. Soekarno dan Hatta kemudian dwitunggal itu pun diasingkan ke Bangka.
Peristiwa pemboman terhadap Bukittingi dan daerah sekitarnya tentu menjadi pengalaman yang tragik, romantik sekligus heroik bagi para pelaku dan masyarakat pada masanya. Diketahui pada tangga 18 Desember 1948 pesawat tempur Belanda, meraung di udara Bukittinggi , awalnya aksi pesawat itu dikira pesawat yang membawa Presiden Soekarno yang singgah di Bukittingi untuk selanjutnya pergi ke India.
Kiranya pada pukul 08.00 pagi tanggal 19 Desember Belanda menyerang kota Bukittinggi, Pusat Pemerintahan Sumatera. Selain itu beberapa tempat seperti Pariaman dari arah laut, Padang Panjang, dan Payakumbuh juga diserang oleh Belanda dengan Mustangnya. Akibatanya berbagai fasilitas pemerintahan dan masyarakat hancur. Serangan itu diikuti oleh penyebaran pamplet oleh Belanda. Isinya yang penting antara lain Presiden Soerkano dan Wakil Presiden Muhammad Hatta ditangkap oleh Belanda. Selain itu Belanda mengajak semua pihak untuk bekerja sama menghancurkan para “teroris-teroris”, tak lain adalah poara pejuang Republik Indonesia[1].
Dibomnya Bukittinggi sebagai Pusat Pemerintahan Sumatera menimbulkan inisisatif dari beberapa pimpinan yang ada di Sumatera. Pertama inisiatif, Tengku M. Hasan CS. Segera setelah pemboman ia mengadakan pertemuan bersama antara Tengku Muhamammad Hasan (Komisariat Pemerintahan Pusat), Mr. M. Nasroen (Gubernur Sumatera Tengah) dan Mr. Sjafruddin Prawira Negara (Menteri Kemakmuran ) yang kebetulan sedang berada di Sumatera. Pertemuan itu diadakan di gedung kediaman Wakil Presiden M. Hatta. Karean tidk tuntas, pertemuan juga dilakukan di rumah Mr. Tengku Mohammad Hasan[2]. Ada dua hal yang penting digariskan dalam dua pertemuan itu, yaitu ide untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan segera menghimbau rakyat untuk mengungsi. PDRI perlu didirikan untuk menjaga agar jangan terjadi vakum kekuasaan [3].
Kedua insisiatif dari St. M. Rasjid, yang kebetulan pada waktu pemboman yang dilakukan tentara Belanda terhadap Bukittinggi sedang berada di Pariaman untuk menjenguk tiga buah kapal barang yang datang dari Singapura. Ia dengan penuh bahaya melewati Sicincin dan Padang Panjang menuju Bukittingi kira-kira pukul 11.00 wib pagi tanggal 19 Desember. Sementara itu tentara Belanda didengar sudah diterjunkan di Singkarak. Sesampainya di Bukittinggi Rasjid langsung mengadakan rapat dengan mengundang Dewan Pertahanan Daerah (DPD) dan beberapa pejabat daerah untuk bersidang. Karena kesibukan menyelamatakan keluarga untuk mengungsi maka banyak di antara undangan yang tidak hadir. Pada tanggal 20 Desember Mr S.M. Rasjid kembali mengundang kepala-kepala jawatan untuk mengadakan rapat, namun rapat ini gagal karena Bukittinggi terus dibom oleh tentara Belanda. Rapat itu baru terlaksana malam tanggal 20 Desember tersebut. Beberapa instruksi yang penting dari Residen Rasjid yang dirumuskan malam itu adalah: menyelamatkan barang-barang penting kepunyaan pemerintah, mengamankan penduduk, mengusngi keluar kota, tidak boleh bekerjasama dengan Belanda serta membumihanguskan kota sebelum ditinggalkan. Selain itu, Rasjid selaku residen Sumatera Barat juga menghimbau seluruh penduduk untuk memperlambat gerak musuh dengan menumbangkan pohon-pohon ke jalan yang kemungkinan dilewati kenderaan patroli Belanda, merusak jembatan dan sebagainya. Rapat terakir Residen Sumatera Barat adalah pada jam 11.00 tanggal 21 Desember, rapat ini diadakan sebelum Rasjid bersama keluarga meninggalkan Bukitttinggi menuju Payakumbuh.
Sampai di Payakumbuh jam 01.00 malam, Rasjid pun berkumpul dengan jajaran sipil dan militer untuk mensosialisasikan kebijakan Pemerintahan Sumatera Barat atas terjadinya serangan Belanda sejak tanggal 19 Desember. Ironisnya menurut Rasjid pertemuan itu diadakan di rumah dr. Anas, yang oleh masyarakat Payakumbuh dianggap sebagai kakitangan Belanda. Tetapi menurut Rasjid dr. Anas tidak membocorkan hasil pertemuan itu.[4]
Pada tanggal 22 Desember 1948 beberapa pejabat Republik yang ada di Sumatera sudah berkumpul di Halaban, saat itu pula tentara Belanda sudah menguasai Bukittinggi. Segera pada tanggal tersebut PDRI disusun dan kemudian diumumkan ke seluruh pelosok Nusantara bahkan ke mancanegara. Struktur PDRI bisa dilihat sebagai berikut:

Mr. Sjafruddin Prawiranegara: Ketua PDRI/Menetri Pertahanan dan Penerangan/ Mewakili Menteri Luar Negeri.
Mr. Tengku Mohammad Hassan : Wkil Ketua PDRI/Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan/mewakili menteri dalam Negeri dan Menetri Agama.
Mr. Lukman Hakim : Menteri Keuanga/ mewakili Menteri Kehakiman.
Ir. Mananti Sitompul : Menteri Pekerjaan Umum/mewakili Menteri Kesehatan
Ir. Indratjaja : Menetri Perhubungan/mewakili Menetri Kemakmuran
Mr. Sutan Muhammad Rasjid : Menteri Perburuhan dan Sosial/mewakli [5]Menteri Pembangunan dan pemuda serta mengurus soal-soal kemanan.

Dari struktur dan personal yang menjabat itu perlu dipahami bahwa PDRI bukanlah pemerintahan masyarakat Sumatera apalagi Sumatera Barat, karena ia dijabat dari berbagai unsur. Dan tujuannya juga untuk melanjutkan tugas pemerintahan pusat yang sedang vakum.
Hal yang penting dalam konteks ini adalah bagimana kondisi perjuangan PDRI di sekitar Limapuluh Kota dan korelasinya dalam keberadaan Republik Indonesia. Perlu diketahui bahwa PDRI mobil, dan dua pusat pemerintahan yang agak menonjol adalah di Kototinggi (Limapuluh Kota) dan Bidar Alam (Solok Selatan). Dipilihnya Kototinggi sebagai salah satu pusat pemerintahan Sumatera Barat dan PDRI tentu dengan alasan bahwa nagari Kototingi dianggap aman dan srategis.Semenetara Bidar Alam strategis untuk pertahanan dan tidak begitu jauh dari sumber kebutuhan pangan. Kedua daerah ini berada di pinggiran dan lebih mudah untuk berhubungan keluar.

Pemerintah dan Masyarakat Lima Puluh Kota: Memperjuangkan Republik dari Nagari
Selain Yogyakarta dan Bukittinggi beberapa kota kecil di Sumatera juga diserang oleh Belanda, salatu satunya adalah Payakumbuh. Beberapa nagari yang dekat dengan kota Payakumbuh diserang dari udara dengan poesawat Catalina sehingga mengakibatkan hancurnya beberapa fasilitas dan mengenai beberapa penduduk. Seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris Kapupaten Limapuluh, Anwar ZA:
“tembakan dari pesawat udara yang dilancarkan Belanda mengenai 2 (dua) buah bis yang bermuatan penuh: sebuah bis terkena tembakan di Piladang (arah barat kota payakumbuh) dan seluruh penumpangnya korban’ dan satu lagi du batang tabit juga mengorbankan seluruh penumpang bis itu. Semua korban itu diangkat ke RSU Payakumbuh dan dibaringkan di kamar jenazah. ....ada yang pontong badannya, pecah kepalanya, putus kaki dan sebagainya.”[6]

Memperhatikan perkembangan kondisi, pada tanggal 20 Desember Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota yang berpusat di Payakumbuh langsung mengadakan koordinasi dan membicarakan mengenai kemungkinan langkah-langkah yang mesti diambil untuk menyelamatkan pemerintahan dan keselamatan masyarakat. Dua hari setelah itu Pemerintah Darurat Republik Indonesia terbentuk di Halaban. PDRI dan Belanda pun ibarat berkejaran dengan maut. Tak lama setelah anggota petinggi PDRI melewati kota Payakumbuh, maka belanda pun menguasai penuh kota tersebut.
Kondisi Pemerintahan Lima Puluh Kota tercerai berai, kecuali dikabarkan bahwa Bupati Alifudin Saldin masih berada dalam kota. Sebahagian pegawai terpencar ke Payakumbuh Utara seperti Koto Tinggi dan sebahagian lagi terpencar ke selatan seperti ke arah Situjuh dan sebagainya. Akibat keterpencaran itu maka sulit bagi Bupati untuk mengkoordinasikan Pemerintahan. Untuk menyelamatkan pemerintahan Gubernur Militer Sumatera Barat di Kototinggi mengangkat Arisun St Alamsyah sebagai Bupati Militer. Dalam pemerintahan yang baru Arisun mencoba untuk mengorganisasi wilayah kecamatan di Lima Puluh Kota. Namun belum berapa lama memerintah Arisun gugur di Situjuh Batur.[7]
Berbeda dengan Bukittinggi, ketika dilancarkan Agresi Militer kedua , Kabupaten Limapulupuh Kota menjadi lebih sibuk. Karena daerah itu menjadi pusat administratif Sumatera Barat dan basis bagi perjuangan PDRI. Sejak dijadikan Kototingggi sebagai salah opusat aktivitas PDRI dan Pusat Pemerintahan Sumatera Barat, tak kurang 700 orang pegawai dan pejabat Sumatra Barat beraktivitas di sana. Konsumsi pegawai itu selama PDRI menjadi lebih ringan karena adanya dukungan dari masyarakat dan di-back up oleh kebijakan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota. Pengakuan Rasjid:
“Bukan hanya yang berwujud materi saja yang dikorbankan rakyat kecamatan Gunung Mas. Bahkan jiwa pun ikut mereka korbankan dengan ikut pergi ke front di sekitar payakumbuh untuk bertempur dengan Belanda. Tidak kuat rasanya saya menuliskan bagimana menanggung beban utang budi dan pengorbanan dari semua rakyat seluruh kecamatan itu. Sampai nyawa bercerai dengan badan tak akan saya dapat melupakan kebaikan hati mereka”[8]

Sebelum peristiwa Situjuh Batur 15 Januari 1949, beberapa kebijakan untuk mendukung perjuangan sudah dikeluarkan oleh Bupati Militer Arisun, namun tampaknya koordinasi terhadap pemerintahan tampaknya kurang jelas.Sehingga intruksi yang dikeluarkan Bupati banyak yang tidak dilakukan. Sementara maslah sosial dan ekonomi juga berkembang sejalan dengan banyaknya para pengungsi dari daerah lain yang datang ke nagari-nagari di Limapuluh Kota.
Beruntunnya serangan Belanda sejak tanggal 19 Desember tampaknya membuat tidak berdaya tentara, polisi dan barisan perjuangan. Semuanya sudah lari menyelamatkan diri dan keluarga ke nagarai-nagari. Kelemahan itu kelihatan saat terjadinya patroli bermotor Belanda ke Koto Tinggi tanggal 10 Januari 1949. Artinya beberapa instruksi dari Gubenrnur Militer dan Pemerintahan Kabupaten Lima Puluh Kota tidak terlaksana.
Perisyiwa patroli bermotor ke Kototinggi tanggal 10 Januari mendapat perhatian serius dari Gubernur Militer, S.M. Rasjid. Malam setelah patroli Bea mundur ke Payakumbuh, Rasjid mengundang seluruh elit perjuangan di Kototinggi untuk rapat. Selain rasjid, beberapa orang yang ikut rapat malam itu antara lain, Komandan teritorum Sumatera Barat, Letkol. Dahlan Ibrahim, Mayor A Thalib, Ketua MPRD, Chatib Sulaiman, Djuir Muhammad dan Anwar St Saidi. Rapat itu telah memutuskan untuk membentuk koordinasi yang lebihbaik baik antara tentara, BPNK dan wali perang, perusakan jalan dan mengadakan pertemuan yang lebih luas di Situjuh Batur untuk mengadakan kordinasi . Hal yang juga penting dan diagendakan adalah memecahkan maslaah pasukan batalyon singa harau yang pindah ke Payakumbuh.[9]
Peristiwa patroli Belanda tanggal 10 januari ke Koto Tinggi juga menjadi catatan penting bagi pemerintah Limapuluh Kota. Untuk itu, beberapa strategi yang diinstruksikan oleh Pemerintah Limapuluh Kota sebelum perisitiwa Situjuh Batur pun dikeluarkan. Intruksi itu antara lain, rumah-rumah yang berada di pinggir jalan jangan dikunci pada siang hari, sebab musuh biasanya lewat pada siang hari, karena itu sebaiknya ada anggota keluarga yang tinggal untuk memata-matai musuh. Kemudian diharapkan di setiap 500 meter pada jalan-jalan besar diharuskan merebahkan pohon ke jalan untuk merintangi musuh. Kemudian diharuskan membunyikan tontong bila diketahui ada musuh yang masuk nagari. Setiap Badan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) hendaklah meningkatkan aktivitasnya siang dan malam. Instruksi lain adalah meruntuhkan beberapa jembatan penting di sekitar kota, sehingga Belanda tidak bisa patroli ke luar kota.[10]

Tragedi dan Problematika Perjuangan
Peristiwa Situjuh Batur sudah terjadi 58 tahun yang lalu. Peristiwa itu pasti meninggalkan kesan yang dalam bagi para pelakunya dan masyarakat yang menyaksikannya. Mungkin di sana ada duka, romantisme sejarah, heroik dan sebagainya. Kadang kala pembicaraan peristiwa Situjuh hampir identik pula dengan pengkhianatan Kamaluddin Tambiluak, seorang Letnan II yang pernah diutus dalam penyelundupan hasil bumi ke Singapura oleh Divisi Banteng.Namun secara lebih jernih dan luas peristiwa Situjuh mesti ditempatkan di atas krisis yang lebih luas, baik di tingkat pemerintahan PDRI maupun di Lima Puluh Kota. Tidakkah beberapa faktor sebelum peristiwa Situjuh Batur membuka peluang untuk terjadinya tragedi?
Dari arsip-arsip Limapuluh Kota sebelum peristiwa Situjuh Batur, tidak banyak koordinasi yang berarti untuk perjuangan di daerah ini. Terakhir sekali Bupati Arisun hanya memberikan pembagian tugas sebagai ganti dari Susunan Organisasi pemerintahan, seperti bidang Politik, Pertempuran, Keamanan, Propaganda Siasat dan persenjataan. Susunan ini tentu lemah dan tidak effektif untuk perjuangan.[11]
Sementara dalam bidang militer terjadi perselisihan dan salah paham di antara kelompok militer. Kembalinya 2 pasukan Singa harau dari Sawahlunto masuk dalam agenda rapat yang akn dibicarakan di Lurah Kincir, sehingga dua pasukan itu tidak diikutkan dalam mengawal rapat. Pengawalan rapat lebih mengandalkan perusakan jalan. Pada hal rapat yang sangat penting itu dihadiri oleh oKetua MPRD Sumatera Barat.
Di kalangan tentara terjadi gap-gap yang bermuara pada konflik. Ada diantara tentara yang saling bunuh. Sebelum rapat besar di Situjuh Batur, sudah terjadi pertengkaran mengenai tempat rapat antara Syofyan Ibrahim (Kepala Intelijen Divisi IX Sumbar dengan Kamaluddin tambiluak anggota perlemngkapan Divisi IX.). Gejala-gejala seperti itu merupakan sinyal tidak kuatnya pertahanan dan keamanan.
Rencana rapat besar di Situjuh Batur sudah tersiar dari mulut ke mulut, baik antara masyarakat maupun antara para pejuang. Isu rapat itu tentu mudah diketahui oleh Belanda yang pendidikan intelijennya jauh lebih baik dari tentara Republik. Rapat itu seperti disambut dengan begitu semangat, initerlihat dari aktivitas masyarakat meruntuhkan jembatan, menumbangkan pohon dan sebagainya. Aktivitas seperti ini mudah diketahui Belanda, apa lagi sehari sebelum rapat pesawat capung Belanda sudah melintas-lintas di angkasa Situjuh. Ini tentu bahagian dari tanda-tanda yang kurang kondusif. Tetapi rapat terus dilangsungkan, dan diserang oleh Belanda.
Peristiwa Situjuh pada suatu sisi memang merenggut puluhan nyawa, dan melukai banyak orang. Namun Peristiwa Situjuh Batur telah menjadi titik tolak untuk melakukan perjuangan di basis PDRI. Konsolidasi tentara dan pemerintahan dilakukan setelah itu. Tentara yang sebelumnya tidak terkoordinasi kini dipimpin dalam satu Komando Pertempuran Limapuluh Kota, di bawah pimpinan Kaptem M. Syafei.[12] Di bawah koordinator Syafei, Payakumbuh yang dikuasai Belanda diserang pada tangal 3 Januari secara serentak. Serangan itu telah memberikan rasa gembira, meningkatkan kepercayaan di hati rakyat kepada pemerintah dan tentara. Peristiwa penyerangan yang menghancurkan beberap pos Belanda itu cukup memberikan keyakinan bahwa Republik Indonesia masih ada, karena itu kerjasama antara masyarakat dan pemimpin pun dirasakan.



Penutup
Tiap tahun peringatan Peristiwa Situjuh terus dilakukan, tiap peringatna itu ada saja cerita baru mengenai peristiwa, baik yang dituliskan di media massa maupun dalam kelisanan. Tentu, Kabupaten Limapuluh Kota sebagai salah satu basis Republik, khusunya PDRI menyimpan banyak memori. Tetapi sayang pelaku sebagai penyimpan memori itu satu per satu meninggalkan kita. Sayang jika tidak ada rekaman jejak sejarah, atau tepatnya penulisan sejarah yang agak baik mengenai berbagai peristiwa itu. Karena itu penulisan sejarah yang masih belum digali itu akan menjadi penting dan mendesak untuk mengungkapkan sejarah yang utuh. Hanya dengan itu setiap peristiwa bisa diwariskan. Juga akan ironis, bila sejarah hanya dituliskan dengan orientasi “hero” dan sebagai legitimasi dan politis. Jika tidak ada bacaan sejarah yang ditinggalkan maka sejarah iotu akan bisu pada generasi berikutnya.***


*Makalah disampaikan dalam acara 58 tahun Peringatan Peristiwa Situjuh yang diselenggarakan di Kecamatan Situjuh Limo Nagari, Kabupaten Limopuluh Kota.**Drs. Wannofri Samry, M.Hum. magister Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas dan Ketua Pusat Studi Informasi, Dokumentasi dan Kesejarahan (PUSINDOK) Unand Padan
[1] Marah Joenoes, Mr. H. Sutan Muhammad Rasjid, Perintis Kemrdekaan, Pejuang Tangguh, Berani dan Jujur. PT Mutiara Sumber Widya, 2003. hal. 101-102

[2] St. Mohammad rasjid, Di Sekitar PDRI (Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang, 1982. hal. 11
[3] Ide pembentuk PDRI pertama sekali muncul dari Mr. Sjafruddin Prawira Negara di rumah Tengku Mohammad Hassan, yang dikemukakan kepada Mr. Tngk Mohammad Hasan, Kolonel Hidayat (Panglima Tentara teritorium Sumatera) dan M. M. Nasroen (Gubernur Sumatera Tengah). Lebih jelas lihat Rasjid, ibid. hal.11-13, Wannofri Samry, Pedesaan dalam Revolusi: Pengungsian, Partisipasi, dan Mobilisasi rakyat Sumatera Barat. Padang: Pusat Penelitian Universitas Andalas/OPF, 1984/1985. hal. 13
[4] Menurut rekaman arsip Belanda Dr. Anas pernah mendapatkan training masalah kesehatan di Belanda. Lihat Audrey Kahin, Strugle for Indpendence: West Sumatra in The Indonesiaan national revolution 1945-1950. A thesis for the Degree of Doctor of Philosophy at Faculty of The Graduate School of Cornell University, may 1970. p. 296.
[5] Keterangan lebih jauh
[6] Anwar ZA, “Keadaan pemerintahan PDRI: Hubungan Administratif dan Rakyat Sivil di Tuingkat Kabupaten (Kasus L Kota).. Makalah disampaikandalam Seminar nasional Sejarah PDRI 1948-1949 Padang, 22-24 Desember 1993. hal.2-3.
[7] Anwar ZA, Ibid.
[8] Ibid. hal. 116
[9] Azwar Dt. Mangiang, Menyingkap Tabir yang Mwenyelimuti Peristiwa Situjuh batur 15 Januari 1949. hal. 9-10.
[10] Beberpa instruksi dikeluarkan seminggu sebelum terjadi peristiwa Situjuh Batur. Lihat umpamnay” instruksi Bupati Militer Limapuluh Kota no2 dan nomor tiga tanggal 12 Januari 1949”. Arsip.
[11] Arsip Rapat Kabupaten Limapuluh Kota tanggal 11 Januari 1949.
[12] Nama-nama komando pertempuran itu yaitu; Sektor Pertempuran Naga Jantan, Garuda mas, Merapi, dan Singa Harau. Azwar Dt. Mangiang, Peristiwa Situjuh… hal. 47.

Monday, February 05, 2007

KOTA TERCINTA, KOTA TERMINAL

Oleh Wannofri Samry

Membaca riwayat kota Padang, sambil duduk di Pantai Muara, lalu berjalan menyusuri Pantai Purus arah ke Utara sungguh sangat menyenangkan. Kita bayangkan sekitar satu setengah abad yang lalu kapal-akapal asing berlabuh. Sejauh-jauh mata memandang lautan benar-benar biru. Di sana sun set terbenam di sore hari. Masa depan terasa indah. Pantaslah dulu Padang diberi julukan Padang Kota Tercinta. Semboyan itu jelas terasa mengandung unsur empati dan simpati, sejuk, damai, dsb.
Masa tahun 1980-an Padang menjadi kota teladan, paling tidak kota inilah sebagai penggagas pengumpulan sampah dengan kantong plastik. Kota bersih. Di mana-mana masyarakat takut buang sampah karena takut kena denda.
Kita masih ingat, terminal dalam kota, Andalas namanya. Sekitar 200 meter dari sana juga ada terminal oplet. Tak ada macet, karena memang penduduknya masih belum seperti sekarang. Lagi pula tidak ada pula plaza dan supermarket, yang ada adalah Pasar Raya, Pasar yang merakyat. Namun Padang masuk ke hati masyarakat, sebagai Kota Tercinta.
Sudah berjalan satu generasi, 26 tahun yang lalu. Padang berubah wajah. Plaza dan supermarket bermunculan. Mobil dan Honda mulai bertebaran dan berseliweran. Di mana-mana macet. Terminal Andalas berubah menjadi Andalas Plaza, megah. Ini Plaza kaum megapolis, berwajah kapitalis global. Di bekas terminal oplet, atau eks Goan Hoat, mucul pula super mall baru. Jadi bangunan-bangunan beton sebagai wujud kemodernan muncul.
Siapapun tidak ada yang takut munculnya bangunan-bangunan beton, walaupun ada kalanya menyesakkan pasar rakyat dan menggaggu ekologi kota. Walaupun kadang kala kota jadi sumpek.
Beberapa masalah yang dicemaskan oleh warga kota adalah pembangunan yang tidak berorientasi rakyat dan lingkungan. Kota dibanguna sejarah digusur, kota makin sumpek, sampah m,enjadi berseliweran di mana-mana, jalan-jalan jadi macet dan sebagainya. Masalah pembangunan dan kesejahteraan masyarakat kota tentulah bukan melulu masalah investasi dan fisik. Penting juga dipermbangkan adalah kedamaian, ketenangan dan keamanan.
Entah orientasi pembangunan yang salah atau kebijakan yang tidak pada tempatnya, yang jelas sampah bertebaran dimana-mana. Tong-tong sampah yang dibangun di berbagai sudut kota hanya menjadi tempat pembusukan belaka dan sampat berseliweran di sekitarnya. Artinya Tong sampah menambah penyebaran sampah.
Macet sudah menyebar di mana-mana. Kemacetan mungkin belum disebabkan oleh kekurangan jalur, sebab banyak- jalur-jalur tertentu yang kosong. Tampaknya ada miss policy dalam mengatur jalur.Lihatlah, dimana-mana sudah menjadi terminal, ada Terminal Minang Plaza, Terminal Angkot di depan mesjid Muhammadyah, di Simpang Cangkeh, di depan Rocky Plaza, di Jalan Permindo, pokoknya tidak jelas mana yang jalan dan mana yang terminal.
Kini Dinas Perhubungan Kota Padang sibuk pula mengatur jalur Utara-Selatan agar bus-bus antar kota masuk kota. Ini adalah sebuah kemunduran dan menghabiskan energi. Memberikan kebijakan untuk masuk terminal yang sudah diterapkan sebelumnya itu sudah tepat, tetapi bagaimana mendisiplinkan mereka. Kota-kota moderen tidak ada yang busnya masuk kota, sebab kota sudah beggitu macet. Lagi pula bila bus antar kota masuk kota juga memprsempit pendapatan pengusaha angkot dan memperlambat pengembangan kawasan lainnya.
Terminal Bingkuang sudah dibangun dengan milyaran rupiah, tempatnya sudah baik. Itu positif untuk pembangunan dan pengembangan kota. Tetapi kenapa Terminal Bingkuang masih belum bisa dimaksimalkan pada hal sudah mau hancur pula?
Di manapun Terminal bus, kalau masyarakat membutuhkan pasti dicari masyarakat penggunanya. Itu jika sistem dn pengaturannya jelas. Terminal akan ramai bila penggunanya memang terkait dengan terminal tersebut. Umpamanya di sana ada kawasan pertokoan, grosir, perkampungan dan sebagainya. Kemudian bagi masyarakat yang penting adalah terminal tersebut aman, nyaman dan ada transportasi yang baik untuk ke sana. Bagi pemilik bus, aturan termninal dipatuhi jika memang ada aturan yang jelas dan kebijakan yang tegas.
Selama ini terkesan pemerintah ragu-ragu menerapkan aturan. Terminal dibangun, bus antar kota disuruh masuk terminal sementara “bus-bus nakal” dibiarkan ngetem di luar terminal tanpa ada sangsi yang konsisten. Ini tentu merugikan sebahagian pengusaha dan sopir yang patuh pada aturan.
Kini pembangunan dan kebijakan kota mesti dikaji ulang dengan melibatkan seluruh ahli, baik dari pemerintah maupun dari perguruan tinggi serta dari berbagai bidang ilmu. Kota ini mesti diatur dengan ilmu pengetahuan, bukan dengan ilmu kira-kira. Karena kadang kala, ada yang dilihat baik tetapi secara ilmu pengetahuan tidak baik. Mungkin tidak baik jika kita hanya memberi obat untuk penahan sakit sementara sakitnya terus berkembang, tetapi bagaimana kita mencari solusi jangka panjang. Seiring kata orang bijak, “kita jangan menunda kekalahan”, begitu juga dengan kehancuran sebuah kota”. Karena itu mari dibela.***

Wednesday, September 06, 2006

Wisata Nagari

Ada sebuah nagari, Pauh Sangit, 25 Km dari kota Payakumbuh, Sumatera Barat, Indonesia. Alamnya sejuk.Burung pipit, balam, dan berjenis burung lainnya masih suka berkicau di sana. Di situ ada dua sungai yang mengalir dengan tenang; Batang Asahan dari Barat dan Batang Lampasi yang mengalir dari Utara, keduanya berair jernih. Ikannya masih banyak dan jinak. Masyarakat bisa menangkapnya kapan saja mau. Dulu, aku suka bermain di sana dan, kemudian mengubah puisi "Dari Hulu ke Muara". Indah!
Nagari itu berbatasan sebelah Barat dengan rimba Kamang di sebelah Utara, dan di Timur dengan Kecamatan Guguk dan di Selatan berbatasan dengan Nagari Suayan. Nagari-nagari sekitarnya adalah nagari yang subur dengan pertanian serta masyarakatnya terampil dalam membuat makanan-makanan tradisional yang enak. Di Utara, Kubang adalah nagari tua yang suka bertenun songket, yang terkenal sejak zaman kolonial Belanda, serta di Taratak (bahagian dari Kubang) berkembang kerajinan anyaman mansiang yang cute dan unik. Tentu semua itu bisa dijadikan oleh-oleh bagi para tamu.
Di Pauh Sangit, sawah dan kebun masih luas. Sawah dengan tanaman padi sistem pengairan yang baik, kalau musim panen tiba wouhhh.. indahnya padi menguning bagai emas sejauh-jauh mata memandang. Lalu belalang dan burung pipit menari dan melayang di atasnya. Anak-anak sebelum remaja bermain layang-layang ciptaan mereka sendiri.
Selain itu kebun-kebun penduduk masih luas di lereng bukit barisan, di sana di tanam karet, kakao, kulit manis, kopi dan berbagai tanaman ekspor lain. selain itu juga ditanam berbagai sayuran yang beragam. bertani memang suatu yang ditekuni anak nagari.
Saya suka bermain ke sawah dan kebun. Kini kebun itu sudah ditanami karet dan coklat. Di akhir minggu (week end) saya senang menemani orang-orang kota ke sana, menikmati burung, mandi di sungai, menangkap ikan di sungai atau memancing, mencoba berkebun dan bertani. Siapapun bisa tinggal di perkampungan penduduk, sambil melupakan rutinitas. Bagaimanapun saya pun bisa menemani sambil hicking ......kemudian menginap ala kampuang. Dan malam hari bisa menikmati silat tradisional(LM.06.09.2006)

Tuesday, August 22, 2006

FOSIL KULTURAL DI TANGAN GUS TF SAKAI


Foto: Suku Terasing Sungai Sadap, Batam
Judul buku: Laba-Laba
Penulis: Gus tf Sakai
Penerbit: Gramedia Pustaka UtamaTahun
Terbit: Juni 2003
Memahami cerpen-cerpen Gus tf Sakai bagi kebayakan pembaca tidaklah mudah. Cerpen-cerpen Gus mengandung banyak dimensi: sosial, psikologis, kultural, dan ada juga unsur politik. Dari 14 cerpen yang dimuat dalam Laba-Laba (Gramedia Pustaka Utama, Juni, 2003), 8 cerpen berlatar budaya yang kuat, sisanya berlatar sosial-psikologis. Namun, apa pun latarnya, tampak ia berbicara mengenai kondisi sosial-budaya kita hari ini dan masa depan. Gaya cerpen Gus yang berdimensi banyak itu adalah sesuatu yang mengasyikkan, dan mungkin juga merupakan cerpen Indonesia paling mengagumkan. Ia berbeda dari pendahulu-pendahulunya, seperti A.A. Navis, Umar Kayam, maupun cerpenis yang mendekati generasinya sepeti Seno Gumira Ajidarma.
Secara umum cerpen-cerpen Gus tf Sakai menunjukkan wawasan bacaan yang luas, mengambil masalah-masalah kultural dan lokal, bukan sekadar deskriptif tetapi mengolahnya menjadi lebih berarti dan juga mempertanyakannya. Budaya lokal di tangan Gus tf Sakai menjadi hal yang universal dan milik semua orang. Budaya lokal digunakan Gus sebagai medium, suasana, dan sekaligus mengemukakannya menjadi suatu masalah. Latar budaya digunakan secara baik sehingga memberi kesan kepada pembaca bahwa kita ada "di sana". Fosil-fosil kebudayaan di tangan Gus tf Sakai menjadi realitas baru yang memberikan rangsangan pada pikiran.Aspek kebudayaan yang diangkat dalam cerpen-cerpen ini adalah yang partikular, sesuatu yang bagi orang lain mungkin tidak menarik, bahkan bagi antropolog dan sejarawan sekalipun, tetapi bagi Gus menjadi hidup kembali. Cerpen-cerpen yang delapan itu adalah Kupu-kupu, Nagari, Meminta kepada Tempat yang Terkabul, Berkaul kepada Tempat yang Keramat, Pot Na Enga Tako, Wabah, Lembah Tabbenai, Tuge, dan Lowe Lomo.
Kupu-kupu, Nagari, dan Wabah mengambil latar kebudayaan Minanangkabau. Kupu-kupu menggunakan medium kupu-kupu, televisi, penonton (seseorang), dan tambo (historiografi tradisional Minangkabau). Pengarang dengan lancar membuat tambo baru: menghubungkan tambo Minangkabau dengan kupu-kupu kuda, sejenis kupu-kupu yang kata Gus sangat dibenci oleh nenek moyang orang Minangkabau. Kupu-kupu ini suka membentuk barisan seperti tentara, atasan, dan bawahan. Tidakkah ini bertentangan dengan sistem egaliter Minangkabau?
Nagari juga membuat mitos baru yaitu pohon nagari, yang sebenarnya tidak ada di Minangkabau. Nagari dalam sistem kultural Minangkabau adalah sistem pemerintahan yang otonom, sejenis republik kecil, sedangkan pada masa Orde Baru ia dibagi-bagi sehingga mengacaukan sistem sosio-kultural dan politik Minangkabau. Dalam cerpen ini nagari "dijelmakan" Gus jadi sebatang pohon yang dipertengkarkan dua keluarga. Pohon ini tumbuh di perbatasan tanah, atau dalam istilah Minangkabau disebut sipadan. Pohon itu jadi sumber malapetaka. Mereka bertaruh, bila suatu saat pohon itu tumbang ke tanah suatu keluarga maka keluarga itulah pemiliknya. Di sini Gus menghadirkan persoalan tentang kebudayaan Minangkabau ketika nagari dihancurkan oleh proses sosial politik.
Dalam Wabah Gus tf Sakai menggunakan medium budaya palasik, yang merupakan satu dari kebiasaan negatif dari sedikit orang di Minangkabau. Budaya itu sudah lama tidak dikenal masyarakat, apa lagi oleh generasi yang hidup dalam 30 tahun terakhir. Para palasik adalah pengisap darah bayi secara diam-diam, sehingga mengakibatkan kematian. Dalam cerpen Wabah ini Gus sekaligus mempertanyakan realitas budaya, mengenai sikap apriori masyarakat yang tanpa alasan, yang mengakibatkan tekanan psikologis bagi seseorang. Sedangkan Meminta kepada Tempat yang Terkabul, Berkaul kepada Tempat yang Keramat, Gus tf Sakai menunjukkan masalah syirik yang dieksploitasi oleh oknum-oknum tertentu sesuai dengan kepentingan. Di sini pengarang lebih banyak bicara mengenai masalah sekarang, etos kerja, dan suasana sosial masyarakat yang tidak kondusif.
Pot Na Enga Tako, menceritakan perdagangan mumi di Toraja, yang menghadapkan tradisi sakral budaya setempat (Toraja) dengan dunia modern dan bisnis. Pada cerpen ini Gus, lewat tokoh Tanete (keluarga Mumi), mengritik upacara kematian yang menghabiskan uang begitu banyak. Pada sisi lain juga tergambar begitu rasional dan pragmatisnya masyarakat lokal dalam menyikapi hidup masa depan. Tuge dan Lowe Lomo tampaknya berangkat dari pandangan terdesaknya masyarakat lokal dan marjinal. Lowe Lomo mempunyai latar belakang masyarakat Minahasa yang kemudian tidak bisa mengikuti perkembangan modernisasi. Tuge berlatar budaya suku Moni, Papua, yang dieksploitasi oleh masyarakat luar sementara masyarakat setempat tidak bisa berbuat apa-apa.
Di luar delapan cerpen tersebut, sisanya adalah cerpen-cerpen berlatar sosial dan psikologis. Ini bukan berarti cerpen-cerpen di atas tidak berbicara sosial dan psikologis, karena setiap cerpen Gus berdimensi banyak. Ia bisa dengan lancar memindahkan suatu latar ke latar lain, atau dari suatu dimensi ke dimensi lain. Dalam bercerita Gus tf Sakai meninggalkan model alur konvensional, A-Z. Ia seenaknya bolak-balik dari satu waktu ke waktu lain, dan dari satu tokoh ke tokoh lain. Bahkan kita harus sangat teliti membacanya, karena adanya lapisan-lapisan cerita. Masa kini, masa lalu, dan masa datang mendapat tempat yang proporsional dalam cerpen-cerpen Gus.
(Sudah dimuat di ruang Buku Koran Tempo, Minggu 02 Mei 2004)

Sunday, August 13, 2006

Sajak-sajak

Wannofri Samry
KOTA TAMBANG I

1891, di bawah tangan van hooze, penambang nasib menaklukkan waktu
sepanjang sungai lunto, dalam bau jejak-jejak de greve si penakluk bara
buliran-buliran keringat pecah menelusup ke akar-akar ke perut-perut bukit
meraba tulang-tulang mati, taklukkan lobang demi lobang

dalam jarak yang panjang, pada nasib yang panjang,
dalam abad yang berat, sebuah kota lumpuh, kota rapuh
tertunduk di langkahmu di hadapanku

segumpalan saputan keringat orang-orang rantai, kuli-kuli kontrak
melayang ke hidungku, di mataku, di matamu mengalir darahnya ke taman-taman resah, di ruang-ruang kota tua

direntang siang direntang malam, kota tampak terbujur
bangkai-bangkai ombilin, besi-besi tua kesepian
dibiarkan menangis di rimba itu di aliran cemasmu

kotanya ijzerman, kotanya para tangkapan
dagingnya busuk di nederland dan batavia.


Sawahlunto, 5 April 2004


Wannofri Samry
KOTA TAMBANG II


udara mayat dan anyir darah dalam kota di bawah jejak-jejak rel kereta
tangis etnis berbagai rupa pada lubang-lubang tambang, di bekas kubur reruntuhan
menanti dirimu. kota pelan-pelan mersik dan kurus menanya namanya
menanya jalan dan rumah-rumah, menanya ayah dan bunda

kau sudah dapatkan saja kepedihan
aku sudah rasa kesedihan
kau jadi ragu

dulu ia lupa dan dungu akan tujuan,
saat menner belanda menggesekkan biola di gedung kota
gadis-gadis kota menari saat musik itu meliukkan pinggangya

Sawahlunto, April 2004


Wannofri Samry
NGILU RIWAYAT ITU
(KOTA TAMBANG III)


pada sebuah kota ngilunya masih terasa,
terbaca pada puing-puing berantak-bersilang
berjejer-jejer kata di mulut-mulut berbusa ,
namun riwayat kota gundah

siang tanpa percikan matahari malam tanpa bulan
bunga-bunga patah terpekur ke sebuah kali
seorang janda tua bertanya
kota, kenapa kau menangis?
+aku kenang masa mudaku sambil dengar orang menggesek biola
di atas nyawa melayang-layang pada lobang-lobang bara
waktu terus mereguk seamsal sembilu
setiap kutulis diriku penaku gemetar
---tak sanggup kubaca riwayat itu.

Sawhlunto-Padang, 2004


Wannofri Samry
SAJAK LUMPUH

aku zigot di rahim ibuku dengarkan ribuan teriakan
aku pandang jalan-jalan, duka memanjang
aku harus hadir padamu

trotoar sepanjang taman meratap sepanjang hujan
kau berlari kejar bunga-bunga itu
bawalah aku ke ujung-ujung hidupmu, kudengar suaramu
angin meringis gesek dinding gedung di sana seperti suara
anak-anak yang lama menangis

“kirimkan aku bunga saat hujan ini juga ke ujung hidupku”, tak henti-hentinya

anak-anak tak bisa berlari.


Padang, 2004.


Wannofri Samry
___ ...___
*kepada yang berjalan


bilang datang, biarlah! ia terus berjalan bagai air mengalir dari hulu
aku berakit sepanjang sungai itu.


Padang, 2004


Wannofri Samry
IMPIAN YANG MEMPORANDAKAN

hari ini
setelah masa dibuka rongganya, kau meronta ke ruang lain
ribuan mimpi datang bagai burung-burung gelisah, kepala-kepala diserbu
gelap-lelap membujur-memanjang

kau menangis---
aku menangis---
bila kau tertawa
aku tertawa liris

lalu, aku berayun, berayun-ayun pada waktu yang belum datang
pada seberkas bias cahaya di celah udara

rumah besar tua dimasuki
dirimu tidak ada, aku pun tidak ada
hanya bangkai-bangkai tua, makhluk-makhluk punah dan zigot-zigot purba

bingkai-bingkai masa lalu dibujurkan
tiang demi tiang dipatah, dibakar
apinya melalar bagai di hutan-hutan kering

di bawah reruntuhan yang terus berjatuhan
kau bertanya aku bertanya tentang masa lalu
tentang waktu: jam berapakah berangkat?

rumput-rumput liar, kecambah-kecambah sudah bertumbuhan
terasa waktu menyalip.


Padang, 2004

Sajak Wannofri Samry
TIGA GORESAN YANG HILANG

goresan pertama: bagi selasih
aku temukan namamu dalam debu lembaran di ruang lupa
terbayang jalan-jalan pergerakan di sana, aliran deras di kamar kertas berguguran,
di tinta-tinta meleleh, sebuah mata tajam menatap, sealiran gerak darah menegakkan raga masuk ke pembuluh pena, kata-kata berlahiran menyapa lewat ujung-ujung jarimu

“puluhan tahun begitu saja ia disembunyikan di bawah debu museum khatulistiwa“

tintamu deras, dadamu bebas
nyawamu ibu, bernyanyi di kamar kecilku

kau dada, darah sejarah yang hilang seperti jatuh ke pasir di waktu bergulir

goresan kedua: bagi sa’adah
kupandang singapura, malaka, saat batam menggigil
di sana hang tuah melempar jangkarnya sehabis berlayar keliling samudra
kulihat laut bagai perempuan setia memapah setiap nahkoda
kubalik sejarah kenapa lelaki semua
pada hal semua petualang dan pedagang dari seluruh benua
sudah melempar sauhnya di pinggir pulaumu.
nongsa, di sana bagai nama perempuan kubaca, apapun sejarahmu tak juga dirasa
karimun, tanjung pinang dan ribuan pulau kecil di dadamu,
berapakah perempuan tersembunyi di selatmu.

goresan ketiga: bagi yang dihukum mati
dinihari si bocah menangis, “mana ayah?”, jeritnya
seorang ibu meraung; “kasih punah di tanah, sebuah kereta telah mengangkut nayawanya entah kemana, ribuan fakta luka pembantaian bersamanya”.

sebarisan peluru juru tembak mengatasnama malaikat maut
memakasa nafasnya, atas nama cinta

di hadapan gelas minum pagi
perempuan berpikir tentang kehamilannya
tentang anak yang dibedung dimamah
ia bertanya: apakah tuhan tersenyum di tiang pancungan
di luar gugur darah balas gugur darah di ngiang gugur bunga

seekor burung putih pagi itu menghardik atas nama nyawa: hentikan!


Padang, 2006

Sajak Wannofri Samry
SEUNTAI CERITA

ujung 1960-an di musim mendaki, di tepi jalan kerusuhan
di pinggiran pasar kekalahan, seorang anak bersama ibunya menatap sebuah mainan
ia kulum senyuman; gerobak-gerobak tua

di matanya lapangan luas sabana, gerobak-gerobak desa meluncur di tangannya
di bawah hujan bagai burung-burung di musim semi berlompatan

gerobak-gerobak kecil bermain di matanya, di ruangan pondok papan menjerit
bagai rumput liar di tepi jalan
“ia masuk ke dalam dunia , berpeluk di pangkuan ibu”
waktu terus mendaki, ia telusuri sungai-sungai cadas ke hulu rimba
ia rekam bunyi-bunyi kebuasan, di jalan-jalan setapak di siang dan malam hari
ia susur petak-petak sawah di ruang-ruang derit suara petani

di pinggiran yang sunyi di tengah alam yang merdu
ia dengar nyanyi nun jauh saat-saat mengaji
ia susuri kampung di ujung sana, bayang-bayangan mencengangkan
di malam hari setiap saat tidur, begitu lama, ia tergoda, indahnya, di manakah ia?

waktu bayang-bayang menampak, di ruang raung suara di guyuran keringat ibu, aku
angan-angan yang jauh, melangkah
lalu ibu, terpana di sebuah toko. “langitmu jauh!”, desisnya
; “pacu kudamu, pacu di pasir kehausan itu!”

tahun-tahun bunga berat merekah dalam bayangan berjuta, di pematang sawah

di jalan-jalan sekolah, di kandang belakang rumah
bayangan itu sungguh celaka, seperti apakah jakarta, surabaya, bali, wah, washington, berlin, london, tokyo..? entah!
(di sekolah ia membaca gerak bibir guru, di luar hamparan daun yang berserakan)


masa yang terlupa, di antara kabut pagi, saat-saat sayur masih kedinginan
aku mesti makan ke sekolah dalam kabut memberat
ayah mesti mengajar demi bangsa, ibu mesti ...berjalan

aku kejar di bukit itu waktu-waktu lari
mengejar bayangan yang kupasang pada puluhan tahun lalu.


Padang, 2006


Sajak Wannofri Samry
KAU MELAYANG

di sini, zoon coen, major jantje dan michiels telah dikubur, slavenorkest tak tampil lagi
di koepel, stamboelan tak bersama landher, namun kursor microsoft yang membiuh.

“walaupun aku bisa melayang menyelinap ke ruang-ruangmu, tapi aku
bukanlah angin yang ringan, bebas-lepas mengendap-endap ke setiap pembusukan
minumku kehausanku bukan tetesan peluh pengelana, kata orang adalah advangarde yang terpana oleh kedap-kedip kursor di ruang maya”

larut malam ia masih berada dalam portal-portal maya, melayang di seluruh pelosok paling riuh, saru dan menakjubkan. dalam ribuan keajaiban ia berpelukan
sebelum matahari tersentak waktu ingin dipintas ke ujungnya
energi telah disedot bagai manusia melahap sebuah binatang ke tulang-tulangnya
bagai listrik menyerap semua tenaga

seluruh jalan di sebuah kota yang dikunjungi
sebuah daerah yang tak pernah ia mimpi
ia hafal seluruh nama dan bagiannya
namun di sebuah selokan di depan tamannya, ia lupa ke mana mengalir airnya
sebuah jerit di belakang gang ia rasakan sunyi
sebuah pohon yang tercerabut akarnya, terlupa!

pada setiap kerdip kursor dalam kedalaman makna cahaya
beribu mimpi ahira luar biasa dipompanya jantung-jantung anak terjajah
“larilah dengan luar biasa”, katanya. aku pun lari lompati tanah-tanah nusa dan benua
bersemedi di rongga-rongga para filsuf-filsuf, melayang ke aras mimpi.



Padang, 2006

SIKAP PEMERINTAH DAN SASTRAWAN KITA

Beberapa waktu lalu Presiden Megawati Soekarno Putri mengungkapkan bahwa Ia merasa malu dengan prestasi Indonesia di Sea Games, karena Indonesia hanya meraih juara tiga, kalah dari Vietnam dan Thailand. Walaupun begitu, sepanjang sejarah olah raga Indonesia, penghargaan dan bonus terhadap Olahragawan tetap berlimpah dibandingkan dengan penghargaan terhadap sastrawan. Olahragawan memang berbeda dengan sastrawan, Olahragawan berjuang saat latihan dan bertanding dengan tubuh tegap dan sehat. Sastrawan berjuang setiap hari dengan ‘pikiran’ dan badan rata-rata kering dan kurus. Kebudayaan dan kehidupan bangsa yang baik ke depan adalah impian setiap sastrawan, itulah yang menjadi beban pikiran mereka setiap hari. Tetapi kenapa pimpinan kita tidak pernah mengungkapkan rasa malunya terhadap kondisi sastrawan kita: tentang pikiran-pikiran mereka yang tidak mampu dibukukan dan tentang perhatian yang minim terhadap para sastrawan ?
Beberapa waktu yang lalu Ajip Rosidi seorang sastrawan Indonesia menulis keprihatinannya tentang nasib sastrawan dalam artikel “Hanya Dijadikan Objek’ (Kompas, Minggu 29 Juni 2003). Pada artikel itu Ajip menguraikan mengenai aktivitas dan prilaku “kurang proporsional” lembaga-lembaga yang berhubungan dengan kebudayaan. Ajip mengemukakan kekecewaannya terhadap prilaku pekerja lembaga kebudayaan yang katanya ingin mengangkat citra kesusastraan namun “jatuh” pada “pelecehan” para sastrawan. Menurut Ajip: “ Sekarang banyak lembaga yang didirikan dengan alasan untuk mengentaskan kemiskinan atau berbagai usaha guna memperbaiki kehidupan dan memajukan rakyat Indonesia. Lembaga-lembaga demikian mendapat bantuan dari luar negeri. Sementara rakyat yang konon ditolongnya tetap melarat, para pengurus lembaga-lembaga itu hidupnya jadi makmur.” Kenyataan itu seperti yang diuraikan Ajip telah menimpa dunia kesusastraan Indonesia, termasuk Ajip sendiri. Menurut saya pernyataan Ajip itu mesti diurai dan ditambah lagi. Pada kalimat itu Ajip hanya menuding lembaga non pemerintah, pada hal pelecehan dari pemerintah terhadap sastrawan dan karyanya juga terjadi. Pemerintah Indonesia kurang menghargai keberaadaan sastrawan, pada hal ia telah berjuang sepanjang hari, membongkar dan merumuskan kehidupan sosial budaya kita. Pernahkah pemerintah berpikir; tanpa sastrawan apakah bangsa Indonesia akan tetap hidup dan menemukan identitasnya?
Pemerintah kita sangat menghargai jasa para politisi, tentara dan birokrat. Kita lihat mereka rata-rata sangat makmur karena digaji dengan berlimpah dan fasilitas mewah. Sementara kaum sastrawan, dan juga banyak kaum intelektual lain, banyak yang hidup sekedarnya. Sering kaum intelektual , “mengemis pada birokrat” untuk menerbitkan karya dan buah pikirnya demi masa depan bangsa. Sementara kaum intelektual yang tidak tahan dengan hidup sederhana terapaksa menjualbelikan buah pikir (untuk mengatakan tidak menggadaikan) pada politisi maupun birokrat ataupun pada orang-orang kaya. Sebahagian lagi terpaksa menyeberang ke dunia politik meninggalkan area kultural mereka. Apakah pemerintah tidak malu dan risau terhadap realitas seperti itu?
***
Bagi sejarawan dan peneliti kesusatraan Indonesia, jasa sastrawan dalam perjalanan bangsa Indonesia tidak bisa diabaikan begitu saja. Para sastrawan telah memberikan dasar arah kebudayaan Indonesia; identitas Indonesia mengental dan terumuskan dari pikiran-pikiran para sastrawan yang tersebar dari berbagai media yang ada di Nusantara. Puisi, cerpen, novel dan esei yang ditulis oleh sastrawan telah memberikan pandangan-pandangan baru terhadap masyarakat Nusantara sejak lama. Karya-karya itu membongkar dan mebentuk pikiran masyarakat untuk menentukan Indonesia pada masa depan. Pertama, mendorong rasa etnisistas menjadi nasionalisme Indonesia . Pada tataran ini para pengarang sudah membuka aura kebersamaan dengan mengemukakan berbagai dilema di bawah pemerintahan kolonial. Kita bisa lihat banyak cerita dan puisi Indonesia yang terbit sebelum Sumpah Pemuda 1928. Bahkan pada tahun 1920 seorang Penyair Indonesia, M. Yamin menggagas mengenai “Kemungkinan Bahasa dan Sastra Indonesia di Masa Depan”.
Pada tahun 1930-an sekelompok pengarang yang terhimpun dalam Pujangga Baru mendiskusikan mengenai arah dan identitas masa depan Indonesia. Pada tahun itu muncul pemikiran-pemikiran tajam dari pengaranag muda, antara lain Sutan Takdir Alisjahbana dan Armeijn Pane. Takdir dan Armeijn beserta pengarang lainnya yang menulis puluhan tulisan dalam Panji Pustaka, kemudian dalam majalah Poejangga Baroe, berpikir keras bagaimana membentuk “masyarakat Indoensia baru” dengan medium “Menuju Kesusatraan Baru”. Dalam konteks itu para pengarang pada masa peregerakan tersebut menguras pemikiran mereka untuk menciptakan suatu kondisi kebudayaan Indonesia yang dinamis. Karena dengan begitulah bangsa Indonesia akan maju dan lepas dari penjajahan.
Kedua, para pengarang sudah memberikan komunikasi kebangsaan secara luas. Para pengarang yang berasal dari berbagai suku menulis berbagai latar belakang kebudayaan dalam berbagai karya mereka. Karang-karangan itu dibaca oleh seluruh masyarakat Indonesia dan memungkinkan seluruh lapisan masyarakat untuk memahami diri mereka dan diri masyarakat lain. Artinya para pengarang sejak awal sudah mendorong pluralisme sekaligus kesatuan sebelum Pancasila dikukuhkan sebagai dasar negara. Pemahaman itu tidak mungkin tuimbul dalam diri para politikus maupun negarawan begitu saja, karena politikus dan negarwan sering berpikir dari sisi praksis sementara para pengarang berpikir dalam tataran kemanusiaan yang paling dalam.
Ketiga, pengarang juga membentuk iklim demokratis tanpa kekerasan dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan. Sumbangan ini sangat penting bagi pertumbuhan Indonesia. Senjata para pengarang adalah pena dan pikiran; apa pun masalah, bagi pengarang cara penyelesaiannya adalah dengan pikiran dan pena ; mereka menuliskan gagasan mereka. Gagasan itu akan menjadi bahan dasar bagi paraktisi untuk bertindak. Sebutlah contoh mengenai gagasan pengembangan pendidikan, teknologi dan kebudayaan , ide-ide itu secara tajam bisa kita baca pada polemik Pujangga Baru tahun 1930-an. Gagasan-gagasan itu terus bergulir dan ditindaki sampai saat ini.
Pada berbagai kesempatan sastrawan Indonesia juga mengoreksi pemerintahan yang korup dan menindas. Karangan masa pergerakan menampar hati dan membuka hati banyak orang bahwa mereka berada dalam kondisi yang sangat riskan: penindasan di bawah kolonialisme. Karena itu masyarakat disadarkan oleh pengarang bahwa mereka harus membentuk sejarah baru, identitas baru yang merdeka. Kemudian sajak-sajak masa revolusi, sudah tidak asing lagi, memberikan roh akan perlawanan keras terhadap kolonial. Fakta kultural yang jelas dapat dibaca antara lain dalam puisi-puisi Chairil Anwar, yang telah menjadi simbol revolusi dalam kesusastraan Indonesia.
Secara resmi para sastrawan Indonesia juga pernah memainkan politik kultural sebagai perjuangan demokrasi. Ada beberapa pernyataan resmi yang dikenal secara nasional, seperti Surat Kepercayaan Gelanggang. Pernyataan ini digagas oleh mereka yang aktif berkumpul dalam “Gelangang” (1946), suatu perkumpulan diskusi yang dibentuk secara tidak resmi oleh Chairil Anwar dan pengarang-pengarang yang ingin menyumbangkan pemikiran terhadap perkembangan revolusi kemerdekaan. Setelah masa revolusi tahun 1950-an tampaknya keprihatinan akan perjalanan bangsa yang lamban mengental. Saat itu mereka ingin mengingatkan akan perkembangan kebudayaan Indonesia, bahwa mereka adalah “ahli waris yang syah dari kebudayaan dunia” dan tidak akan melap-lap kebudayaan lama”. Kontek waktu dari pernyataan itu membangkitkan semangat dan kesadaran identitas bahwa “Indonesia sama dengan bangsa lain” dan kebudayaan Indonesia harus digali agar lebih dinamis.
Pernyataan lain adalah Manifes Kebudayaan (1963) yang dimotori oleh H.B. Jassin dan Wiratmo Soekito. Manifes itu sebagai tanda perlawanan terhadap pemrintahan Orde Lama yang otoriter dan sentralistik. Gagasan Manifes Kebudayaan adalah melepaskan diri kebudayaan dari tekanan politik dan menjadikan kebebasan berpikir dan berkereasi sebagai elan vital kebangsaan Indonesia. Pernyataan ini sebenarnya suatu fakta dari akibat pertarungan politik yang “tidak fair” di tingkat kebudayaan, namun diolah secara produktif oleh pengarang.
Pada masa orde baru banyak gagasan pembaruan yang muncul dari para sastrawan lewat sajak, cerpen, novel dan esei yang diterbitkan di media massa dan buku. Hampir setiap media massa sebelum kejatuhan Soeharto memuat karangan-karangan yang mengingatkan pentingnya suatu pembaharuan di Indonesia, dan beberapa diantara sastrawan seperti WS Rendra, Taufik Ismail, Goenawan Mohammad Emha Ainun Najib dan Wiji Tukul (sekedar menyebut beberapa nama) membacakan karangan-karangan mereka secara lantang, sehingga kadang membuat mereka berurusan dengan pihak berwajib. Namun semua itu adalah dalam tataran membentuk sebuah bangsa yang dinamis dan baru.

***
Tingginya sumbangan sastrawan terhadap perubahan kebangsaan Indonesia tidak sejajar dengan perhatian pemerintah, masyarakatt dan perubahan tingkat kelayakan hidup para sastrawan. Sastrawan makin terpinggirkan dalam berbagai proses kebijakan sosial, politik dan ekonomi. Apresiasi pemerintah dan masyarakat terhadap sastra tidak kian maju. Para sastrawan makin baik secara kuantitatif dan kwalitatif namun tetap tidak bergerak secara sosial dan ekonomi. Penghargaaan pemerintah dan masyarakat terhadap sastrawan jauh di bawah penghargaan terhadap dunia olah raga dan penyanyi dangdut. Dunia olah raga misalnya, bisa mendapatkan dana milyaran dan jaminan hidup dari negara. Penyanyi dangdut bisa dihargai masyarakat dengan tayangan khusus di televisi dengan bayaran puluhan juta sekali panggung. Sastrawan menerbitkan karyanya sendiri dan mendanai kegiatannya dengan jerih payah keringatnya. Mereka hidup secara swasembada, tetapi dipandang dengan “sudut mata kiri”.
Sejarah memang menunjukkan, menjadi sastrawan memang penuh dengan idealisme; hidup adalah berjuang dalam kesepian. Sementara, pada sisi lain, kapitalisme, akibat perkembangan pengetahuan dan tekonologi, makin maju. Dunia ini memang mengutamakan pasar ekonomi yang praktis: semua berujung pada uang dan materi. Produk sastra kadangkala dianggap sebagai barang tidak laku, walaupun ia telah membuktikan mampu mengubah dinamika dunia. Kapitalisme dan materialisme mencakar ke mana-mana sampai ke pojok kampung. Tawaran-tawaran kesenangan setiap hari bermunculan dan berdatangan di depan kehidupan manusia, termasuk pada sastrawan. Para sastrawan tidak bedanya dengan manusia lain, mereka membutuhkan kebutuhan pokok, biaya sekolah anak-anak dan kebutuhan lainnya. Sementara kebutuhan tertier sudah begitu meruyaknya (umum) sedangkan kebutuhan pokok saja susah dipenuhi oleh sastrawan. Ini membuat mereka memang berjuang dengan sekuatnya: apakah mereka mengarang sekedar menghasilkan karya, kebenaran tanpa memperhatikan kehidupan keluarga ataukah untuk segalanya. Tampaknya rayuan materialisme sungguh tidak mungkin dielakkan.
Sekarang sastra (wan) dalam lingkaran kapitalisme dan materialisme pada satu sisi tersisihkan namun pada sisi lain telah diolah oleh pelaku kapitalis sebagai komoditi. Sebahagian lagi sastrawan sudah masuk pula dalam kegiatan “gerakan kebudayaan” yang bergantung pada dunia kapitalis. Sastra(wan) sudah menjadi komoditi yang bisa didagangkan dan ditawar. Dalam tataran ini terjadi juga persaingan antara sastrawan untuk memasuki pasar, karena dalam dunia kapitalisme yang kuat dan cepat akan menjadi subjek, maka yang lain akan menjadi objek. Kadangkala objek dimainkan dengan begitu “murahnya”,. Sehingga “gerakan kebudayaan” jatuh pada kegiatan tidak manusiawi: menjual sastra (wan). Dalam tataran ini hanya sastrawan yang mau mengikuti pasar dan dekat dengan pusat kekuasaan politik dan ekonomi yang akan muncul kepermukaan, sementara yang jauh dari orbit itu akan ketinggalan dan tidak diketahui. Di sini terlihat sastra Indonesia tidak muncul ke permukaan dengan fair dari segala potensi dan pelosok, bahkan sebahagian sastrawan dikorbankan untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
***
Pada bahagian akhir ini saya hanya ingin menegaskan dan ikut bersambung pikiran dan perasan akan keprihatinan Ajip Rosidi, “ Indonesia merdeka sastrawan terlupa”. Karena itu saya ingin menanyakan perlukah satu gerakan sastrawan yang terpadu, menyeluruh dan simpati untuk membangkitkan perhatian pemerintah dan masyarakat? Dalam pikiran saya, sudah saatnya masyarakat sastrawan dan pecinta sastra Indonesia berjalan bersama, memberi pencerdasan pada pemerintah dan masyarakat demi majunya sastra dan sastrawan Indonesia. Pemerintah dan masyarakat harus digerakkan hatinya agar menyediakan perhatian kongkrit terhadap perkembangan sastra di masa depan.***

*Wannofri Samry, Penyair dan Peneliti pada Lembaga Kajian Starategi Budaya (Lekas Budaya), penulis pada berbagai media massa lokal dan nasional.